h1

Karena engkau Ayah terbaik sedunia..

Oktober 6, 2010

Gerimis tak juga terlihat akan mereda, kubiarkan rombongan butiran air itu menyentuh diriku, menjamah jaket hitam motif kotak kesayanganku. Setelah menunggu tak terlalu lama yang aku tunggu akhirnya datang juga, besi tua dengan enam roda yang dijejali dengan manusia didalamnya, Kendaraan jenis inilah yang setia mengantarkankan diriku menuju kota kelahiranku. Dengan posisi berdiri selama setengah jam bus yang aku tumpangi telah mengantarku sampai di terminal Kampung Rambutan yang terlihat cantik bermandikan cahaya lampu penerang 1200 Watt.

Berbeda dengan bus yang pertama biasanya bus menuju kota yang tidak pernah tidak macet saat menjelang dan sesudah lebaran ini (baca: cikampek) hanya terisi kurang dari sepuluh penumpang ketika keluar dari terminal Kampung Rambutan, dengan begitu aku tak pernah absen menduduki tempat favorit yakni baris kedua dibelakang pak sopir. Aku memilih tempat ini bukan karena biar leluasa melihat pemandangan didepan tapi karena alasan sebagai berikut:

  1. Agar  turunnya cepat karena dekat dengan pintu depan (Kenapa tidak memilih bangku paling depan?), alasan kedua adalah jawabannya.
  2. Jika duduk di bangku paling depan jika sopir mengerem mobil dengan mendadak sudah dipastikan aku akan tersungkur jatuh ke depan (karena biasanya aku tertidur saat keluar dari jalur lingkar luar sampai dengan pintu tol cikampek), jika dibangku kedua setidaknya masih ada bangku paling depan yang menjadi penghalang.
  3. Sebenarnya bangku baris kedua yang lebih dekat dengan pintu depan adalah bangku sebelah kiri, namun aku tidak memilihnya karena dengan pertimbangan saat berada diposisi kiri  jika akan keluar maka harus bergeser kekanan dengan bertumpukan kaki kanan terlebih dahulu (Rata-rata orang indonesia mempunyai tumpuan terkuatnya pada kaki kirinya-menurut pendapat guru olahragaku waktu SMA; sehingga hal ini dijadikan kode oleh para kondektur ato penumpang ketika hendak turun dari angkutan umum agar tidak lupa saat turun menggunakan tumpuan kaki kirinya, jangan pernah mencoba menginjakan kaki kanan terlebih dahulu ketika turun dari angkutan umum karena yang akan menyentuh tanah setelah kaki kanan bisa dipastikan bukan kaki kiri tapi bagian tubuh yang lain), maka dari penjelesan yang panjang ini aku yang akan terbangun sesaat akan turun dari bus memilih kursi sebelah kanan.

Sebenarnya kedua kendaraan diatas mempunyai riwayat yang sama yaitu sama-sama sudah udzur dan sering terbatuk-batuk saat ingin meneriakkan “akulah raja jalanan, akulah penguasa jalan ini, aku sudah meginjakkan kaki karetku sebelum kalian lahir (sambil menunjuk kumpulan mobil sedan dan minibus disampingnya), tahu apa kalian tentang sejarah jalanan ini? Akulah yang membuatnya menjadi halus dengan kaki-kaki karetku ini”. Dan seperti biasa mereka -para sedan dan minibus itu- tak pernah mengindahkannya mereka berlalu seperti tak pernah mendengar apa-apa dan setengah menit kemudian mereka sudah tak lagi terlihat.

Tak terasa situa telah mengantarkanku sampai tujuan terakhirnya, ah ternyata masih juga gerimis tapi ini bukan butiran air yang tadi menjamahku karena butiran ini terasa asing dan aku tidak mengenalnya dengan baik, tak usahlah dipikirkan yang penting sebentar lagi aku sampai dirumah (baca: se7enheaven – karena tempat ini dihuni oleh 7 anggota keluargaku termasuk juga aku dan merupakan tempat ternyaman ke-3 dari semua tempat yang pernah kutuju-).

Dan seperti biasanya aku disambut oleh sepasang kakak-beradik yang mulai hafal dengan jadwal kepulanganku dari bogor. Sikakak mulai bercerita tentang pelajaran berhitung, dengan mengunakan jari-jarinya sebagai alat hitungnya, kemudian dia mengambil sekantong permen yang menemani perjalanku dari dalam tas punggung yang kubawa dia mulai memamerkan kebolehannya berhitung dan setelah aku tanya berapa jumlah permen yang ada dengan cepat dan lugas dia menjawab “banyak”-dia sadar jumlah jari tangan dan kakinya tak sebanyak jumlah permen yang dia dapatkan dan jawaban banyak adalah jawaban yang ia anggap paling benar. Sedangkan siadik yang sebulan lalu menginjak usia keduanya bercerita tentang petualangan dan hal-hal yang menyenangkan yang dilakukannya  hari ini (anak ini terlihat begitu cerdas dia menceritakannya diselingi dengan senyuman dan semangat yang mengebu-gebu), tahukah engkau kenapa aku menganggapnya cerdas karena aku yang sudah dewasa ini tidak  bisa mengerti apa yang sedang dia bicarakan sekarang ini sedangkan dia sangat paham betul apa artinya. Kehangatan canda dan tawa dari kedua kakak-beradik ini seolah melenyapkan udara dingin diluar yang mulai dilanda hujan lebat. Setelah bertukar cerita akhirnya kami bertigapun tertidur beralaskan kasur lipat di ruang depan.

Malampun mulai merayap terasa ada yang mengangkat kepalaku dan diselipkannya sesuatu dibawahnya dan sekarang leherku terasa lebih nyaman kemudian terasa hangat menyelimuti tubuhku, aku baru sadar tadi aku tertidur dan tak sempat memakai bantal serta selimut kemudian kulihat laki-laki itu membenarkan selimut kakak-beradik yang juga ikut tertidur  disampingku lalu membisikkan sesuatu ketelinga mereka “percayalah akan mimpi-mimpimu karena Allah akan menggenggamnya dan kemudian mempercayakan mimpi itu kepadamu” seperti yang pernah dia bisikan padaku waktu aku kecil. Karena itulah aku tahu kenapa ibu menganggukkan kepalanya ketika lelaki ini melamarnya dan laki-laki itu adalah ayahku. “Ayah, aku akan selalu percaya akan mimpi-mimpiku waktu kecil dan aku akan mewujudkannya..karena mimpi itu belum pudar..aku masih ingin mengejarnya..meraihnya dan menggenggamnya.”

Siapapun aku kini atau nanti kau akan tetap menganggapku anak lelaki terkecilmu yang akan mengembangkan senyumnya ketika engkau bercerita tentang kecerdikan sikancil mengelabuhi musuh-musuhnya, tentang perahu yang mengantarkan petualanganmu ke pulau sumatera (ingin rasanya aku menginjakkan kakiku disana), tentang ikan koi dikolam belakang rumah yang tertidur dengan mata tak terpejam, tentang ayam-ayam yang keluar dari cangkang telurnya (menetas) dimalam  jum’at , tentang sekolah rakyat yang menuntunmu dapat mengoreskan tinta diatas sobekan kulit kayu, tentang rayap yang buta namun mereka tak perah tersesat ketika pulang kerumahnya masing-masing, tentang perjuangan ayahmu (kakek) ikut serta mengusir penjajah, dan tentang cinta pertamamu dengan ibu. Aku tahu kini engkau lemah, engkau telah dihianati kota kelahiaran orang-orang yang paling engkau cinta (jakarta-kini hanya untuk orang2 yg kuat). Tapi kisah keperkasaanmu dulu takkan pernah pudar, kulihat jelas bekasnya terukir pada ragamu yang tak lagi tegap. Ayah engkaulah ayah nomer satu didunia.

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”


Bogor-Jakarta-Cikampek  “Oktober-2010”

Persembahan untuk Ayah terbaik di dunia..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: